Umat Katolik di Jawai tidak muncul tiba-tiba. Jejak paling tua yang dapat ditelusuri berada di buku baptis paroki: pada tahun 1911 sudah ada nama-nama umat dari kawasan ini yang tercatat pada masa pelayanan Pastor Agustinus, OFMCap— Ordo Saudara Dina Kapusin. Dalam konteks paroki yang dibuka sejak Oktober 1907 oleh P. Marsellus Winnumuller dan gereja parokinya diberkati pada 3 Juni 1908, kehadiran umat Jawai adalah bagian dari gelombang awal karya misi di pesisir barat Borneo.
Generasi pertama — jejak di buku baptis (1911)
Generasi pertama umat Katolik Jawai hanya meninggalkan jejak berupa catatan paroki. Tidak ada gedung, tidak ada jadwal tetap — perayaan besar biasanya dilakukan di Pemangkat, sedangkan di Jawai umat berdoa bersama sebisanya. Rentang ini berlangsung panjang, menembus masa perang dan pergantian pemerintahan. Yang bertahan bukan struktur, melainkan iman yang diwariskan dari keluarga ke keluarga.
Generasi kedua — keluarga Rupinus & Aquilina (1978)
Babak baru dimulai ketika Bapak Rupinus (Alm.) danIbu Aquilina Ase tiba di Jawai pada Maret 1978. Pak Rupinus bertugas di Puskesmas Sentebang, sementara Ibu Aquilina adalah guru agama sekaligus guru kelas. Keduanya mulai mendata umat Katolik di Jawai dan melaporkannya ke Paroki Pemangkat — pekerjaan yang tampak kecil, tetapi menjadi dasar bagi umat ini untuk dilayani secara tetap.
“Awal Januari 1979, Ibadat Sabda pertama dibuka dan dipimpin Ibu Aquilina Ase di rumah beliau di Sentebang, Jawai.”
Ibadat mingguan kemudian berpindah ke Sekolah Dasar Swasta Pantai Jawai, dekat rumah Alm. Pak Muzani. Perubahan lokasi ini penting: umat tidak lagi berdoa di ruang pribadi, tetapi di ruang publik yang bisa menampung lebih banyak orang.
Membangun gereja (1984)
Lokasi untuk gereja diperoleh berkat bantuan Camat Jawai, Suratman Taufik. Setelah panitia pembangunan terbentuk, pekerjaan dimulai pada 20 Februari 1984oleh Amback School, Pertukangan Singkawang, denganPastor Malachias De Jong, OFMCap sebagai penasihat danAlm. Rufinus sebagai ketua panitia sekaligus ketua umat.
Gedung itu kemudian diberi nama Gereja Katolik Santa Maria, dengan nama stasi Stasi Jawai. Pemberkatan dilakukan pada19 Juni 1984 oleh Mgr. Hieronimus Bumbun, OFMCap.
Mengapa bernuansa Tionghoa
Stasi Jawai dikenal sebagai satu-satunya gereja stasi bernuansa Tionghoa di Paroki Santo Yosep Pemangkat — paroki yang mayoritas umatnya adalah etnis Tionghoa. Di Pemangkat, gereja pertama dibuka tahun 1907 dan gereja parokinya diberkati 1908; komunitas Tionghoa di pesisir Sambas sudah ada jauh sebelum itu, terbentuk dari arus pekerja tambang abad ke-18 dan permukiman pedagang di sepanjang pesisir.
Karena itu, ornamen dan tata ruang bergaya Tionghoa di Stasi Jawai bukan sekadar pilihan estetika. Ia penghormatan atas sejarah panjang umatnya — sekaligus pernyataan bahwa iman Katolik dapat tumbuh tanpa mencabut akar budaya setempat.
Setelah 1984 — merawat yang sudah dimulai
Sepeninggal para perintis, tugas berpindah kepada generasi berikutnya: memelihara gedung, melanjutkan katekese, dan menjaga tali kebersamaan. Semangat gotong royong yang membuat gereja ini berdiri masih dipakai sampai sekarang — dari kerja bakti halaman sampai urunan untuk kegiatan umat.